Archive | Makalah/Artikel RSS for this section

SEPUTAR MAKANAN DALAM KITAB AL-MAHALLY BIL ATSAR

Kitab al-Mahally wal Atsar merupakan kitab karangan Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm yang beliau merupakan salah seorang alim yang bermadzhab dzahiri. Beliau menyinggung kesimpulan-kesimpulan yang dapat diambil dari ayat dan hadits tentang makanan.

Makalah ini menggunakan bahasa arab. Download di sini bagi yang berkenan.

Al-Fatihah Dalam Shalat

Al-Fatihah yang merupakan ummul quran (induk al-Quran) telah memunculkan berbagai pendapat para ulama mengenai hukum-hukum yang berlaku seputar surat ini. Berikut cuplikan dari artikel yang membahas tentang hukum-hukum seputar al-Fatihah dalam shalat :

…Semua perbedaan ini tentu bukan asal beda atau sekedar berani beda dengan yang lainnya. Sebab perbedaan mereka bukan semata-mata berangkat dari logika atau khayalan semata. Sebenarnya semua berangkat dari perbedaan nash yang ada di mana masing-masing mengantarkan kepada bentuk pemahaman yang berbeda juga…

Klik di sini untuk mengunduhnya.

AHLUL FATRAH

Kita tahu, bahwa siapa saja yang tidak mengikuti syariat Rasulullah, maka bisa dipastikan orang tersebut tidak akan beruntung selama-lamanya. Meskipun dia ditakdirkan dengan terbukanya dunia dalam kehidupannya. Namun kenikmatan yang mereka kecap tidak akan pernah sebanding dengan siksaan yang akan mereka dapat di akhirat. Dan itu kekal. Maka tidak akan pernah ada artinya seluruh kesenangan mereka di dunia ini.

Pertanyaannya, bagaimana dengan orang-orang yang hidup sebelum diutusnya Rasulullah dengan syariat Islamnya ? Apakah tetap dihukumi sebagaimana orang kafir terhadap ajaran beliau setelah beliau diutus menjadi rasul ?

Orang-orang yang hidup di masa kosong antara dua nabi diistilahkan dengan ‘Ahlul Fatrah’. Yang jelas, apabila orang-orang yang hidup di masa tersebut masih mendapatkan dakwah nabi sebelumnya maka dia harus mengikutinya. Namun, apabila dakwah nabi sebelumnya tidak tersampaikan kepada mereka, maka mereka diampuni karena kebodohan mereka (terhadap syariat). Meskipun rentang waktu antara dua nabi di waktu itu tidak terlalu lama.

Maka pelajaran yang bisa diambil bahwa kebodohan yang diampuni oleh syar’i dari kaum Ahlu Fatrah itu adalah tidak tersampainya ajaran (risalah) kepada mereka. Bukan lantaran panjang atau pendeknya rentang waktu di antara kedua Nabi.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidup sebelum kenabian atau diangkatnya Nabi SAW?

Kemudian apakah mereka juga termasuk Ahlu Fatrah yang diampuni kebodohannya lantaran tidak tersampainya kepada mereka dakwah para Nabi ? Atau kelompok Ahlu Fatrah yang memang tidak diampuni kebodohannya lantaran telah tersampainya dakwah para Rasul kepadanya?

Apakah setelah kenabian Muhammad SAW ada Ahlul Fatroh? Dan apakah kebodohan mereka diampuni ?

Temukan jawaban tersebut dengan mengunduh makalah sederhana ini.


ABORSI DALAM PANDANGAN ISLAM

Pada Akhir abad ke 18 M, berkembanglah di Eropa sebuah pemikiran yang dipelopori oleh pendeta bernama Malicus, ia menulis sebuah makalah berjudul “Populasi Penduduk dan Dampaknya dalam Masa Depan Bangsa” TH 1213 H/1798M. Ia berpendapat bahwa pertambahan populasi penduduk yang begitu pesat dari 2,4,8,16,36. Sedangkan data devisa negara hanya dapat mencukupi antara 3,4,5,6,7,8. Oleh karenanya negara terancam kelaparan bila hal ini terus dilestarikan. Maka ia mengajak kepada pembatasan keturunan dengan jalan memakai gaya hidup rahib ( tidak menikah ), atau mengakhirkan proses perkawinan sampai populasi penduduk tidak bertambah pesat .

Dalam sejarah perundang-undangan kuno mereka semua mengharamkan aborsi kecuali bangsa Yunani. Undang-undang Persi kuno contohnya, sampai abad ke 18 M mereka menjadikan hukuman bagi orang yang melakukan aborsi dengan mengasingkannya, tidak ada perbedaan baik ia melakukanya sebelum peniupan ruh ataukah setelahnya, kemudian tahun 1791 M, undang-undang ini direfisi dan ditetapkanlah hukuman untuk orang yang melakukannya dengan pidana kurungan selama 20 TH. Kemudian dipebolehkan bagi seorang wanita untuk melakukan pada bayinya, baru setelah itu diperboloehkan secara mutlak bila dilakukan pada sepuluh minggu pertama (masa kehamilan). Dan Negara yang pertama kali membolehkan aborsi adalah Uni Soviet.

Bagaimanakah Islam memandang persoalan ini ?

Salah satu perkara yang diperbincangkan di sini adalah hukum membunuh janinnya. Ada dua kesimpulan dari perbincangan para ulama mengenai masalah ini :

Pertama, haram menggugurkan janin setelah berumur 4 bulan. Namun tidak diwajibkan qishash bagi asal (ibu) bila membunuh cabang (janin), walapun disengaja dan direncanakan. Di antara alasan yang mereka kemukakan untuk menetapkan hukum itu adalah karena asal telah dijadikan Allah sebagai sebab terwujudnya cabang, maka tidak layak jika cabang menjadi sebab kematian cabangnya.

Kedua, apabila janin digugurkan sebelum berumur 4 bulan, maka para ulama berselisih pendapat tentang hal ini. Di makalah ini, dikemukakan pendapat al-imam al-arba’ah.

Selain itu dibahas pula hukum yang berkaitan dengan janin yang sudah menjadi mayit. Apakah dimandikan atau tidak ?

Ingin mengetahui lebih lanjut ? Anda bisa mendownload makalah sederhana ini di sini.



PRINSIP AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsary menuliskan sebelas prinsip aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Tidak ada kompromi untuk prinsip-prinsip ini mengingat aqidah merupakan satu hal yang paling urgen dalam berislam. Aqidah merupakan pondasi agama ini. Jika pondasinya tidak beres, sudah barang tentu bangunan di atasnya juga tidak akan beres.

Di akhir makalah ini, disertakan juga syarat dan kaidah berdakwah kepada ahlus sunnah wal jamaah. Menarik untuk dijadikan referensi. Silakan klik di sini untuk mendownload makalah ini.

The Beginning…

Nothing.
Just my suggestion for my self and dear you.
Beginning all with great says.
In the name of Allah…
May He blesses us.

Ahlan wa Sahlan di blog sederhana ini. Semoga Anda dapat memetik manfaat darinya.